Minggu, 13 November 2011
ketika perenungan lelah mengingatkanku lagi
Ayah, iput cuma mau cerita tentang perjalanan hidup iput.
adakah kesalahan besar yang udah iput buat? yang iput tau kesalahan iput adalah sering jatuh pada kebodohan yang sama.
dan saat ini iput merasa sangat rendah. sepertinya berkali-kali iput ditinggalkan oleh orang-orang yang iput sayang.
tapi yang paling menyakitkan adalah ketika iput ditinggalkan oleh laki-laki yang sangat iput percaya.
iput yakin dialah yang bisa seperti ayah. penyabar dan soleh.
bodohnya adalah..iput terlalu cepat menyimpulkan kalau dia menyayangi iput layaknya ayah.
iput sangat menyayanginya yah..iput menaruh harap yang besar.
entah karena sebab apa tiba-tiba ia pergi yah. tanpa memberi kata perpisahan terlebih penjelasan.
iput ditinggalkan tanpa alasan, seperti dibuang rasanya.
mungkin iput yang terlalu berperasaan. tapi anakmu ini adalah gadis dewasa yah.
bukan gadis kecil yang ketika dibelikan permen hanya akan berjingkrak senang lalu seperti biasa lg saat menikmati permennya.
iput seorang wanita yang sedang bersiap memberikan cinta pada keluarga kecilnya kelak.
Ayah tau? setelah lama ia tanpa kabar, iput harus menerima kenyataan pahit ternyata ia pergi bukan karena tak suka apalagi benci. tapi karena iput memang tidak berarti apa-apa untuknya.
ia sudah bersama orang lain dan kabarnya sudah merencanakan sebuah komitmen serius.
apa tidak sakit anakmu ini yah. harus kehilangan orang yang diyakini bisa menyayangi iput seperti halnya ayah pada iput dulu.
mungkin problemnya bukan pada siapa dia pergi atau bagaimana perasaannya sama iput. tapi caranya ia pergi seperti iput adalah nol.
sebegitu tidak berharganya kah iput bagi orang lain?
padahal...mimpi terbesar iput adalah bisa mencintai dan dicintai semua orang yang baru atau sudah lama iput kenal.
lalu bagaimana lagi harus iput hadapi kepedihan seperti ini lagi?
berkali dicurangi, apakah masih bisa iput mendapat sedikit keadilan?
cuma sedikit..saja
pelik segerombol masalah yang harus iput pendam sendiri.
meski iput tak pernah meminta banyak
meski iput tak pernah ingin dijanjikan apapun
nyatanya banyak harap yang seperti air tak dapat digenggam
dan seribu janji yang terucap kemudian terabaikan juga
ketidak adilan
pengingkaran
bukan soal mengeluh pada Tuhan
bukan soal siapa yang salah
tapi bagaimana cara iput menempuhnya sendiri sampai sejauh yang harus dilampaui
Ayah...seandainya kelak harus iput jumpai juga kediaman Ayah disana dalam waktu singkat
iput akan tetap mencoba belajar "Apa itu kearifan hati dan ikhlas?"
22:22 / 13.11.2011
Langganan:
Komentar (Atom)