Rabu, 23 Januari 2013

Kisah Senja

(1)
 
*Dalam satu hati, ada rasa yang bersandar.
Cinta.
Tidak selalu cinta itu tentang penantian.
Tidak juga selamanya tentang dinanti.


'Bertahun-tahun diam, menyusun sejuta kata menjadi sebuah cerita penuh makna akhirnya penantian Senja berhenti padanya. Pria yang tergambar baik, selama 6tahun lebih di hati senja.'

Hari itu hampir larut, namun tidak juga ada penghalang bagi senja untuk sekadar menyaksikan penampilan kakak-kakak kesayangannya nge-band. Sebenarnya alasan Senja datang adalah untuk sesaat menjejaki lagi salah satu tempat yang ingin ia kenang saat bersama pria yang lama menjadi sahabatnya, sahabat bagi hatinya. Dan benar saja, senja punya kesempatan itu lagi, bertemu dengan pria penunggu hatinya.

Satu jam, dua jam, rasanya terlalu sebentar untuk senja abadikan. Saat itu usai melihat penampilan band favoritnya Senja mencoba menghubungi sahabatnya, berharap ia bisa diantar pulang. Berhubung lokasi perform dekat dengan rumah si pria.

Beruntung, ia betul-betul bisa diantar pulang, meski alasan yang lebih kuat adalah, rindu yang berlebih. Hanya sebentar menunggu, mereka akhirnya bertemu. Kata demi kata yang saya rangkai mungkin cukup kompleks jika sekadar menggambarkan kisah ini, ini dimaksudkan untuk memberi penghormatan kepada cinta yang selalu bertahta dihati umat manusia.

Seperti biasa, seorang yang sedang merindu tidak akan rela membiarkan waktunya untuk sekadar mengucap salam. Senja dan pria spesial ini, sebut saja Dafin, berhenti sebentar di mall dekat rumah Senja. Mereka hanya berjalan-jalan menelusuri mall sambil bercerita hangat menceritakan bagaimana kehidupan mereka masing-masing setelah lama tidak bertemu. Kalau saja penulis dapat menggambarkan suasana saat itu, lihat saja angin. Kebersamaan mereka begitu saja dihembuskan tanpa mengingat kembali bahwa ada debu yang kadang terbawa bersamanya. Tapi mereka senang. Singkatnya begitu.

Malam seakan tidak mereka ingat. Tapi begitu melihat jam tangan, hari benar-benar telah larut dan tidak baik bagi seorang perempuan pulang malam. Kembali ketujuan awal, Dafin pun mengantar Senja pulang.

Baru saja motor keluar dari loket pembayaran parkir, hujan turun sangat deras. Mereka kemudian berteduh di depan sebuah apotik. Obrolan-obrolan tentang enam tahun lalu atau waktu di dalamnya, menjadi pengisi kegiatan menunggu hujan reda. Ada cerita tentang kejengkelan-kejengkelan masa SMA, ada cerita tentang masa-masa sulit saat harus tidak jujur satu sama lain. Moment itu pun ternyata tidak luput dari perasaan mereka yang telah lama tidak terucap.

Saling jujur, menjadi bagian cantik malam itu. Dafin akhirnya menyatakan perasaannya pada Senja. Wanita yang lama ia bilang sayang, ia bilang tidak luput dari ingatan, dan tidak pernah terhapus dari harapan. Dag dig dug.. Dag dig dug.. Sepertinya hanya itu yang didengar Senja saat pria yang betul-betul ia sayangi menyatakan cinta. Dengan cukup dewasa-seperti biasa, hanya ekspresi buatan-Senja memainkan kata untuk menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan Dafin.

"Hmm..gimana ya? Sebenernya aku gak bisa. Aku gak bisa bohong kalau memang aku juga sayang sama kamu. Dan kamu tahu itu sejak dulu kan?" Ucap Senja sambil menahan linangan haru dihatinya.

....

Selasa, 25 Desember 2012

25 des 2012

Kamu mengulangnya lagi.

pertama aku diam, dan tetap berpikir semuanya adalah guyon.
setelahnya akupun masih begitu. diam.

berkali-kali, bertahun-tahun, terus terulang.
tidak perlu lagi kujelaskan. kau harusnya sudah tahu.

baik, kujelaskan.

dulu, dengar, itu dulu.
aku menyukaimu tanpa izin. hanya terobsesi pada sesuatu yang menarik. mungkin suaramu, atau apapun.
waktu demi waktu, ternyata tanpa kusangka aku benar-benar menginginkanmu. hingga akhirnya aku berlomba dengan hatiku. kami bertaruh bahwa ini tak akan lama.

singkat cerita, aku kalah.
aku mengaku kalah.
aku tidak menang dari waktu, dari kamu.

berkali aku merasa tersakiti, kesetiaan nyatanya tetap tegar.

dan hari ini, kau datang dengan seribu janji yang pernah kau bawa pergi.
bodohnya kuterima kembali dengan sejuta mimpi.

tetap mencintai.

sudahlah, satu kata ini terlalu rumit dijabarkan.
yang ingin kuketahui adalah bisakah kamu mengerti.     

kamu

pernahkah ada satu bayangan yang terus kau ikuti?
padahal kau tahu bayangan itu tak pernah bisa kau sentuh.

pernahkah kau coba menatap matahari?
padahal kau tahu ia menyakitkan untuk ditatap.

Jawabku;

pernah.

aku pernah mengikuti sebuah bayangan bahkan menyentuhnya.

ialah bayanganmu saat kupeluk.


pernah.

ialah kamu matahari terang yang kutatap saat senja yang lebih indah.

Cemburu

Di tengah malam yang sendu
tangisku akhirnya pecah
diam-diam ada butiran airmata
yang menetes sedikit waktu

Lewat haru meragu yang juga rindu
aku tak seharusnya malu
atas harap yang dulu tak kumau
atas senyap yang bukan kuburu

Sekarang, aku mencoba mengerti lagi
aku belum dapat apa-apa
aku bahkan belum beranjak kemanapun
selama ini aku hanya ingin tahu
meski ternyata tetap saja tak pernah tahu

Jumat, 04 Mei 2012

Tentang Sebuah Moment

Tentang sebuah moment

masih jelas tergambar senyummu yang bijak
penuh ketabahan disertai petuah-petuah sederhana
diam tanpa suara
adalah kebisuan yang indah di hari kepergianmu

saat itu kita tak saling tahu
apa yang hendak disiratkan dan ditakdirkanNya
kita berdua hanya bercengkrama
menikmati waktu yang ada

give me time to reason

tentang sebuah moment singkat
jauh melangkah menjelajah perpisahan

andaii..bisa
moment itu akan kubekukan dalam sebuah bingkai
membiarkan satu waktu digenapkan bersama
jika memang waktu adalah harapan kalbu

dan biar kujelaskan,
sepenuhnya kenangan itu belenggu
belenggu kehampaan
teman bagi kesetiaan
untuk setiap individu-yang punya harga baginya

if only i could turn back time
i would stay for the night