(1)
*Dalam satu hati, ada rasa yang bersandar.
Cinta.
Tidak selalu cinta itu tentang penantian.
Tidak juga selamanya tentang dinanti.
*Dalam satu hati, ada rasa yang bersandar.
Cinta.
Tidak selalu cinta itu tentang penantian.
Tidak juga selamanya tentang dinanti.
'Bertahun-tahun diam, menyusun sejuta kata menjadi sebuah cerita penuh makna akhirnya penantian Senja berhenti padanya. Pria yang tergambar baik, selama 6tahun lebih di hati senja.'
Hari itu hampir larut, namun tidak juga ada penghalang bagi senja untuk sekadar menyaksikan penampilan kakak-kakak kesayangannya nge-band. Sebenarnya alasan Senja datang adalah untuk sesaat menjejaki lagi salah satu tempat yang ingin ia kenang saat bersama pria yang lama menjadi sahabatnya, sahabat bagi hatinya. Dan benar saja, senja punya kesempatan itu lagi, bertemu dengan pria penunggu hatinya.
Satu jam, dua jam, rasanya terlalu sebentar untuk senja abadikan. Saat itu usai melihat penampilan band favoritnya Senja mencoba menghubungi sahabatnya, berharap ia bisa diantar pulang. Berhubung lokasi perform dekat dengan rumah si pria.
Beruntung, ia betul-betul bisa diantar pulang, meski alasan yang lebih kuat adalah, rindu yang berlebih. Hanya sebentar menunggu, mereka akhirnya bertemu. Kata demi kata yang saya rangkai mungkin cukup kompleks jika sekadar menggambarkan kisah ini, ini dimaksudkan untuk memberi penghormatan kepada cinta yang selalu bertahta dihati umat manusia.
Seperti biasa, seorang yang sedang merindu tidak akan rela membiarkan waktunya untuk sekadar mengucap salam. Senja dan pria spesial ini, sebut saja Dafin, berhenti sebentar di mall dekat rumah Senja. Mereka hanya berjalan-jalan menelusuri mall sambil bercerita hangat menceritakan bagaimana kehidupan mereka masing-masing setelah lama tidak bertemu. Kalau saja penulis dapat menggambarkan suasana saat itu, lihat saja angin. Kebersamaan mereka begitu saja dihembuskan tanpa mengingat kembali bahwa ada debu yang kadang terbawa bersamanya. Tapi mereka senang. Singkatnya begitu.
Malam seakan tidak mereka ingat. Tapi begitu melihat jam tangan, hari benar-benar telah larut dan tidak baik bagi seorang perempuan pulang malam. Kembali ketujuan awal, Dafin pun mengantar Senja pulang.
Baru saja motor keluar dari loket pembayaran parkir, hujan turun sangat deras. Mereka kemudian berteduh di depan sebuah apotik. Obrolan-obrolan tentang enam tahun lalu atau waktu di dalamnya, menjadi pengisi kegiatan menunggu hujan reda. Ada cerita tentang kejengkelan-kejengkelan masa SMA, ada cerita tentang masa-masa sulit saat harus tidak jujur satu sama lain. Moment itu pun ternyata tidak luput dari perasaan mereka yang telah lama tidak terucap.
Saling jujur, menjadi bagian cantik malam itu. Dafin akhirnya menyatakan perasaannya pada Senja. Wanita yang lama ia bilang sayang, ia bilang tidak luput dari ingatan, dan tidak pernah terhapus dari harapan. Dag dig dug.. Dag dig dug.. Sepertinya hanya itu yang didengar Senja saat pria yang betul-betul ia sayangi menyatakan cinta. Dengan cukup dewasa-seperti biasa, hanya ekspresi buatan-Senja memainkan kata untuk menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan Dafin.
"Hmm..gimana ya? Sebenernya aku gak bisa. Aku gak bisa bohong kalau memang aku juga sayang sama kamu. Dan kamu tahu itu sejak dulu kan?" Ucap Senja sambil menahan linangan haru dihatinya.
....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar