Rabu, 13 Juli 2011

hingga 13 Juli 2011

Di sebuah persimpangan hidup aku hentikan langkah letih ini

Untuk memilih dan berpikir kembali tentang sesuatu

Oh tidak, tapi banyak hal



Ada kalanya aku ragu dan takut

Namun sesaat aku berusaha kuat dan yakinkan diriku

Inilah yang dapat kulakukan

Ini yang terbaik



Tapi tidak Tuhan

Engkau tau itu bukan aku

Karena itu aku terhenti

Lihatlah aku sekarang ini Tuhan

Tidak berdaya dihadapmu

Terlampau pasrah



Tuhan

Ingin rasanya aku ceritakan tentang satu keinginan kecilku

Tapi aku tahu Engkau tahu

Hanya saja, aku ingin bicara



Tidak bisa aku ingkari arti hadirnya semua ini

Sangat indah Tuhan

Sangat indah

Meski terkadang sedikit sulit

Begitu sombongkah aku Tuhan



Kudengar ada suara takdir yang sedang digoreskan

Apa aku salah

Mungkinkah ini hanya suara lemahnya hatiku



Dalam hati kecilku ada harapan itu

Sedang aku lakukan hal lain

Terlampau goyahnyakah keyakinanku kini Tuhan

Akan diriku sendiri



Aku tidak dapat menjelaskan semua kerumitan ini

Tidak semudah aku ucapkan pada yang lain

PadaMu aku hanya dapat menitihkan keluh dan kesah

Lewat butiran pedih yang luruh

Atau tatapan kosong dan do'a sederhana



Tuhan

Andaikan saja dapat setiap hari kugulirkan itu

Kurasa cukup untuk aku berbagi pada diriku sendiri

Cukup puas kubuat diriku menarik ulur langkah ini

Meski sesungguhnya aku tidak mampu

Sendiri

Selasa, 12 Juli 2011

kehangatan sahabat

kebekuan hidup dari tekanan, permasalahan hidup dan juga beban pikiran lain seakan cair oleh tawa dan gelak canda teman-teman.
jauh terlalu lama rasanya aku kehilangan moment ini karena satu sebab.
tapi cukuplah tak ingin aku kembali atau mengingatnya lagi. sudah terlalu membebani.
aku bahagia ada mereka lagi bersamaku.
entah apakah ini saat yang tepat aku kembali jadi aku yang dulu.
akan kuperbaiki semuanya.
akan ku ulang lagi moment-moment terbaik bersama sahabat lagi seperti sedia kala.
tapi sampai sebelum semua benar-benar selesai, aku akan tetap berusaha menuntaskan kerikil kecil yang ada.
bosan aku seperti itu lagi, lagi dan lagi.
teman, aku bersyukur masih ada kalian mendampingiku.
kehangatan yang sudah kalian beri akan ku buat sebagai kekuatan hidupku.
semoga ini akan tetap baik-baik saja pada jalan yang benar. amiin..

Minggu, 10 Juli 2011

HIDUP adalah tentang sebuah PENGAKUAN

hidup adalah tentang sebuah pengakuan

aku mencoba mengartikan kata-kataku sendiri

mulai dari apa itu hidup

apa itu pengakuan

dan apakah hidup selalu terdefinisikan



hidup adalah tentang sebuah pengakuan

ketika kujabarkan kata demi kata tidak juga ku temukan

apakah sesulit itu arti hidup

aku tahu itu harus kujalani dulu

baru kuketahui seperti apa



hidup adalah tentang sebuah pengakuan

pengakuan atas apa

haruskah hidup saling aku mengakui

bukankah hidup penuh kebohongan

bukankah hidup tiada saling membanggakan

kurasa hidup hanya tentang keAKUan

individualistis



hidup adalah tentang sebuah pengakuan

tapi aku resapi kembali apa yang sudah kulalui

benarkah hidup adalah tentang sebuah pengakuan

dan aku sedikit menyadari tentang sesuatu

benar tidakkah arti hidup itu

hidup adalah hal besar yang patut disyukuri



ternyata hidup bukan hanya tentang sebuah pengakuan

tapi hidup adalah tentang banyaknya kita berarti bagi orang lain

banyaknya kita membuat orang lain tersenyum

cukuplah hidup jadi sebuah hadiah kecil dari Tuhan

untuk kita jaga sebagai amanah syurga bagi siapa yang mau memahami



tidak penting satu atau lebih penghargaan

bahkan penghormatan

tidak juga tentang kesombongan diri akan dilihat orang lain

apalagi saling membanggakan diri yang tidak ada arti

hidupku, untuk aku bagi

hidupku, tidak untuk kuakui



hidupku adalah tentang pinjamanNya..

patut kubayarkan kelak nanti.



senin, 00:50

11/07/2011

Jumat, 08 Juli 2011

ayah

Dear My Papa

Pada puisi aku datang ayah
Bukan hendak menggugat takdir kematianmu
Atau menghujat sang pemilik maut

Kali ini ingin aku katakan
Kepergianmu adalah pelajaran tanpa kamus
Perenungan panjang untuk dipahami
Bahwa hidup adalah pembuktian
Untuk wujudkan syukur dan sabar
Ketika harus menjalani skenarionya

Pada puisi aku akan kembali menemuimu ayah
Lewat goresan pena
Yang mengajariku tentang arti kematian
Bila esok telah kutemukan
Muara kasihNya tak bertepi
Akan kuceritakan kembali sepuluh malam kepergianmu
Dan sepuluh bunga yang masih berteduh
Di bawah puhon-pohon kamboja

"Oleh seseorang yang menginspirasiku"

bersama-sama

Dulu aku adalah orang yang dicari-cari. Karena aku yang aktif, inisiatif dan kreatif. Itu kata mereka. Aku apa adanya dan sederhana. Membuat orang lain nyaman bersamaku dan berteman denganku. "Aku punya banyak bakat yang harus bisa dikembangkan". Oleh karena itu aku ikut banyak kegiatan dan sangat menyibukkan diriku untuk mengasah bakat-bakatku itu, khususnya di dunia entertain. Sehingga dulu aku punya banyak teman dan dunia yang menyenangkan. Semua berpihak padaku, membanggakanku. Yang paling membuatku senang adalah, ibuku. Aku bahagia bisa membuatnya bangga pada prestasi-prestasiku yang memang ibuku punya andil sangat besar atas kesuksesan itu.

Aku senang punya banyak teman dan segudang prestasi. Tapi...entah kenapa aku merasa masih ada sesuatu yang kurang. Ada yang kosong dalam diriku, keseharianku. Sepertinya ada satu sosok, figur yang belum ada disampingku.

Pengganti ayah.
Walau aku tahu ayahku hanya satu, dan tidak akan pernah ada yang bisa lebih baik bahkan sepertinya. Ia teramat berharga untukku. Itulah, ada sosok laki-laki yang harusnya mendampingiku. Menjagaku dan membagi tawaku. Ya, saat itu memang aku masih belum menemukan laki-laki yang membuatku merasakan ada kasih ayah disampingku, menguatkan aku bahkan saat aku ingin membagi kebahagiaan. Aku cukup letih menikmati rasa senang ini sendiri. Maka jadilah aku yang seperti ini. Sendiri ditengah orang-orang yang meninggikanku. Sendiri di antara banyaknya sahabat yang tidak mampu kulihat.

Lama kuberpikir tentang itu. Sejauh ini, yang ku tahu, "Ketika itu aku tidak mengerti kenapa harus ada orang lain bersama kita". Mungkin karena aku tidak benar-benar sedang bersama orang lain. Aku juga tidak pernah tau apa ruginya kalau kita sendiri. Sepertinya aku ada bersama yang lain atau tidak, itu sama saja. Sama-sama bisa melakukan hal-hal menyenangkan, bahkan saat aku sendiri, aku merasa hal yang kulakukan itu lebih mengasyikan. So, mana kutahu "kalau ada orang lain bersamaku, apa hebatnya?"

Menurut mereka yang mungkin mengerti, orang lain ada untuk membuat kita paham akan diri sendiri. Untuk membantu membangkitkan sisi diri kita yang masih terlelap, membuatnya hidup dan menghidupkan dunia. Kita sendiri akan merasa bahwa kita hidup adalah untuk orang lain dan membahagiakannya.

Hmmm...entah kenapa aku tetap belum mengerti dengan kalimat-kalimat itu.

Sejak kecil aku menjalani hidup ini cukup keras dan tanpa perlu banyak bantuan dari orang lain kecuali ibu dan saudara-saudaraku, aku masih bisa tetap fight dengan hidup ini. Meskipun rasanya aku cukup senang mempunyai banyak teman. Tapi pada akhirnya aku sadar hidup membuat kita seperti diolok-olok, kita dipermainkan dengan sekeliling kita, aku merasa dimanfaatkan dan ketika tidak dibutuhkan maka aku akan dibuang, kemudian mereka akan mencariku lagi saat nilai guna itu ada kembali. Dan begitu lagi sampai kita terpisah.

Hari begitu cepat berlalu dan aku masih ingin mengerti semua ini. Sangat ingin!
Hingga satu ketika ada satu dunia yang kutempuh. Begitu mengartikan hidup pada Sang Empunya kehidupan. Bahwa kita memang sendiri di dunia ini hanya untukNya. Ialah yang selalu bersama kita sesungguhnya. Dan aku memang percaya itu. Tapi...lama kelamaan aku mulai ragu dengan mereka, "cara yang mereka jalani"-bukan hukum yang ada. Aku merasa di sana sama saja seperti di tempat gelap yang membuat kita menerka-nerka akan sesuatu di dalamnya. Bila kita memejamkan mata dan bermimpi tentang terang, maka segala yang baiklah yang kita lihat. Namun ketika yang ada hanya hitam, kita hanya melihat kesendirian, segala sesuatu yang tidak menyenangkan, walau mesti dijalani. Aku saat itu berada dalam masa yang sulit. Waktu selalu membuatku tidak ingin beranjak. Tapi ada saatnya juga aku benar-benar merasa sendiri dan semakin tidak mengerti. Hingga ku ambil keputusan untuk kembali lagi seperti dulu. Menjalani semuanya sendiri (lagi). Hanya saja aku ada dalam jalanNya.

Tanpa kusadar, orang-orang yang dulu pernah ada meramaikan hidupku, datang kembali. Mereka sepertinya ingin sekali menggoreskan catatan bahwa "Kamu adalah teman kami".
Datang lagi yang lain ingin menuliskan kalimat yang sama pada catatan kosong lembaran kehidupanku.
Mereka hadir dihadapku dengan kesederhanaan. Dan Kebahagiaan kecil mereka bawa untuk ditanamkan lagi padaku.

Ya Tuhan, aku tidak pernah lagi merasakan bahagia ini sejak hampir setahun lalu. Aku sekarang harus terbata-bata mengartikan ini semua. Situasi ini membuatku bingung dan tidak bisa membuat sebuah keputusan yang benar. Atau paling tidak yang terbaik.

Tetap saja, sedikit demi sedikit kucoba terima lagi keadaan ini. Bukankah ini yang kucari selama ini. Bersama orang lain. Mengartikan kata-kata itu. Dan sekarang aku hadir dengan aku yang berdampingan, bukan aku yang tersisihkan seperti beberapa waktu lalu. Dan kini, aku bahagia. Orang-orang lain itu datang mengisi catatan hidupku lagi. Mendampingiku. Menemaniku dan membagi keceriaan padaku. Aku senang, aku merasa sedikit kekosongan itu dapat terisi. Dan aku sudah punya cita-cita untuk nanti. "AKU AKAN MELAKUKAN APAPUN UNTUK MEMBUAT ORANG LAIN SENANG dan BAHAGIA BERSAMAKU".

Aku akan mencoba melakukannya lagi seperti dulu mereka bangga padaku.

Sepertinya aku mulai mengerti artinya kebersamaan, bagaimana membuat segalanya indah saat bersama orang lain, dan mengapa hidup harus bersama-sama. Aku menemukannya dari mereka. Mereka yang ada menemaniku, tidak membuatku melakukan segala sesuatunya sendiri. Semoga ini tidak lagi menjadi suatu harapan yang berlebihan untuk aku yang sedang kacau ini. Semoga ini tidak lagi menjadi bara api yang meleburkanku lagi. Dan semoga aku masih bisa percaya bahwa harapan itu masih boleh kumiliki. S-E-M-A-N-G-A-T !! Semangaaat....

..p(^o^)q..