Dulu aku adalah orang yang dicari-cari. Karena aku yang aktif, inisiatif dan kreatif. Itu kata mereka. Aku apa adanya dan sederhana. Membuat orang lain nyaman bersamaku dan berteman denganku. "Aku punya banyak bakat yang harus bisa dikembangkan". Oleh karena itu aku ikut banyak kegiatan dan sangat menyibukkan diriku untuk mengasah bakat-bakatku itu, khususnya di dunia entertain. Sehingga dulu aku punya banyak teman dan dunia yang menyenangkan. Semua berpihak padaku, membanggakanku. Yang paling membuatku senang adalah, ibuku. Aku bahagia bisa membuatnya bangga pada prestasi-prestasiku yang memang ibuku punya andil sangat besar atas kesuksesan itu.
Aku senang punya banyak teman dan segudang prestasi. Tapi...entah kenapa aku merasa masih ada sesuatu yang kurang. Ada yang kosong dalam diriku, keseharianku. Sepertinya ada satu sosok, figur yang belum ada disampingku.
Pengganti ayah.
Walau aku tahu ayahku hanya satu, dan tidak akan pernah ada yang bisa lebih baik bahkan sepertinya. Ia teramat berharga untukku. Itulah, ada sosok laki-laki yang harusnya mendampingiku. Menjagaku dan membagi tawaku. Ya, saat itu memang aku masih belum menemukan laki-laki yang membuatku merasakan ada kasih ayah disampingku, menguatkan aku bahkan saat aku ingin membagi kebahagiaan. Aku cukup letih menikmati rasa senang ini sendiri. Maka jadilah aku yang seperti ini. Sendiri ditengah orang-orang yang meninggikanku. Sendiri di antara banyaknya sahabat yang tidak mampu kulihat.
Lama kuberpikir tentang itu. Sejauh ini, yang ku tahu, "Ketika itu aku tidak mengerti kenapa harus ada orang lain bersama kita". Mungkin karena aku tidak benar-benar sedang bersama orang lain. Aku juga tidak pernah tau apa ruginya kalau kita sendiri. Sepertinya aku ada bersama yang lain atau tidak, itu sama saja. Sama-sama bisa melakukan hal-hal menyenangkan, bahkan saat aku sendiri, aku merasa hal yang kulakukan itu lebih mengasyikan. So, mana kutahu "kalau ada orang lain bersamaku, apa hebatnya?"
Menurut mereka yang mungkin mengerti, orang lain ada untuk membuat kita paham akan diri sendiri. Untuk membantu membangkitkan sisi diri kita yang masih terlelap, membuatnya hidup dan menghidupkan dunia. Kita sendiri akan merasa bahwa kita hidup adalah untuk orang lain dan membahagiakannya.
Hmmm...entah kenapa aku tetap belum mengerti dengan kalimat-kalimat itu.
Sejak kecil aku menjalani hidup ini cukup keras dan tanpa perlu banyak bantuan dari orang lain kecuali ibu dan saudara-saudaraku, aku masih bisa tetap fight dengan hidup ini. Meskipun rasanya aku cukup senang mempunyai banyak teman. Tapi pada akhirnya aku sadar hidup membuat kita seperti diolok-olok, kita dipermainkan dengan sekeliling kita, aku merasa dimanfaatkan dan ketika tidak dibutuhkan maka aku akan dibuang, kemudian mereka akan mencariku lagi saat nilai guna itu ada kembali. Dan begitu lagi sampai kita terpisah.
Hari begitu cepat berlalu dan aku masih ingin mengerti semua ini. Sangat ingin!
Hingga satu ketika ada satu dunia yang kutempuh. Begitu mengartikan hidup pada Sang Empunya kehidupan. Bahwa kita memang sendiri di dunia ini hanya untukNya. Ialah yang selalu bersama kita sesungguhnya. Dan aku memang percaya itu. Tapi...lama kelamaan aku mulai ragu dengan mereka, "cara yang mereka jalani"-bukan hukum yang ada. Aku merasa di sana sama saja seperti di tempat gelap yang membuat kita menerka-nerka akan sesuatu di dalamnya. Bila kita memejamkan mata dan bermimpi tentang terang, maka segala yang baiklah yang kita lihat. Namun ketika yang ada hanya hitam, kita hanya melihat kesendirian, segala sesuatu yang tidak menyenangkan, walau mesti dijalani. Aku saat itu berada dalam masa yang sulit. Waktu selalu membuatku tidak ingin beranjak. Tapi ada saatnya juga aku benar-benar merasa sendiri dan semakin tidak mengerti. Hingga ku ambil keputusan untuk kembali lagi seperti dulu. Menjalani semuanya sendiri (lagi). Hanya saja aku ada dalam jalanNya.
Tanpa kusadar, orang-orang yang dulu pernah ada meramaikan hidupku, datang kembali. Mereka sepertinya ingin sekali menggoreskan catatan bahwa "Kamu adalah teman kami".
Datang lagi yang lain ingin menuliskan kalimat yang sama pada catatan kosong lembaran kehidupanku.
Mereka hadir dihadapku dengan kesederhanaan. Dan Kebahagiaan kecil mereka bawa untuk ditanamkan lagi padaku.
Ya Tuhan, aku tidak pernah lagi merasakan bahagia ini sejak hampir setahun lalu. Aku sekarang harus terbata-bata mengartikan ini semua. Situasi ini membuatku bingung dan tidak bisa membuat sebuah keputusan yang benar. Atau paling tidak yang terbaik.
Tetap saja, sedikit demi sedikit kucoba terima lagi keadaan ini. Bukankah ini yang kucari selama ini. Bersama orang lain. Mengartikan kata-kata itu. Dan sekarang aku hadir dengan aku yang berdampingan, bukan aku yang tersisihkan seperti beberapa waktu lalu. Dan kini, aku bahagia. Orang-orang lain itu datang mengisi catatan hidupku lagi. Mendampingiku. Menemaniku dan membagi keceriaan padaku. Aku senang, aku merasa sedikit kekosongan itu dapat terisi. Dan aku sudah punya cita-cita untuk nanti. "AKU AKAN MELAKUKAN APAPUN UNTUK MEMBUAT ORANG LAIN SENANG dan BAHAGIA BERSAMAKU".
Aku akan mencoba melakukannya lagi seperti dulu mereka bangga padaku.
Sepertinya aku mulai mengerti artinya kebersamaan, bagaimana membuat segalanya indah saat bersama orang lain, dan mengapa hidup harus bersama-sama. Aku menemukannya dari mereka. Mereka yang ada menemaniku, tidak membuatku melakukan segala sesuatunya sendiri. Semoga ini tidak lagi menjadi suatu harapan yang berlebihan untuk aku yang sedang kacau ini. Semoga ini tidak lagi menjadi bara api yang meleburkanku lagi. Dan semoga aku masih bisa percaya bahwa harapan itu masih boleh kumiliki. S-E-M-A-N-G-A-T !! Semangaaat....
..p(^o^)q..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar