Kita tiada bukan
karena tidak disukai, namun karena setiap langkah punya tapaknya sendiri yang
terlupakan.
Seperti yang aku
ingat, kita pernah sendiri saat bisa bersama.
Seperti ketika kita
terpejam dalam hiruk pikuk pandangan mata,
saat kita ingin punya ruang pandang
sendiri.
Mestinya, Ketiadaan cukup
punya andil dalam memajemukan liku hidup.
Meski hidup
sangatlah mengasikkan diantara keberagaman, kerap kali hidup itu berarti mampu.
Mampu bertahan dari
segala hal, pahit manisnya derap langkah yang bertumbuh.
Tumbuh meski tanpa didampingi lainnya.
Maka kita adalah
TIADA.
Sebab kita bukanlah
tentang aku dan kamu, atau dia.
Tak cukup
dimengerti, terlebih dipahami atau memahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar