langkahku sekarang terasa gontai, letih
segala penopang telah rapuh,
beberapa sudah hancur
atau tak lagi lekat ?
lihat saja derap langkahku yang terseok
lihat saja ucap kataku yang sering sungkan
lihatlah sedikit mata ini menatap
kadang kosong, kadang penat
entah bagaimana lelah ini tergambar
tulisan ini pun bukan lagi aku
terangkanlah apa yang kau tahu
buat aku mengerti dan kembali
Rabu, 28 Maret 2012
Minggu, 25 Maret 2012
kesempatan
aku pernah melangkah begitu hening
dalam raut runyam masa lalu dan harapan
walau terseret, aku resapi langkah hidup
yang ketika itu aku telah tersentak dan sadar
seperti jatuh berkali-kali baru ku tahu
ada banyak tanya yang tak pernah dipertanyakan
ada banyak hal yang dikorbankan tak pernah jadi pengorbanan
begitu pula kasih sayang, cinta, ada banyak yang tak pernah digoreskan
aku..hanya ingin menjalankan sedikit kesempatan yang kupunya
untuk mengistirahatkan langkahku yang gontai
untuk menyuarakan ucapku yang keliru
setidaknya hingga aku tak lagi mampu
Jumat, 23 Maret 2012
Dua Satu
Ayah..
Tersenyumlah disana. Buatlah dunia kita begitu indah hingga tiada yang tau
kalau kita terpisah.
Ayah..
Engkau memang orang kedua yang aku kenali setelah ibu.
Tapi
engkau orang pertama yang pergi dari kehidupan ini, meninggalkan nafas kasih
yang tak pernah lepas dari nyawaku.
Saat
semua orang gembira menyambut hari perjuangan seorang wanita hebat bernama
"Kartini",
saat
itu pula Sang Empunya Hidup menarik nyawamu kembali padaNya.
Meski
kau pergi ayah.. Taukah? Bahwa hari itu Allah telah menitahkan kebesaran pada
ibuku juga. Sebagai seorang wanita yang hebat, melebihi seorang
"Kartini" sekalipun.
Karena
Ibu, telah melahirkan dua orang calon pejuang hidup yang kuat.
Aku
dan Adikku.
23 Maret
2012
13:56
Harus KUakui
Sebab sering aku ingkari, setiap rasa tertanam dan tumbuh tanpa kusadari juga.
hingga kali ini, dalam segores katalah aku harus bisa mengakuinya.
*****
"Awalnya aku mengenalmu sebagai bagian indah alunan musikku
Kau dentangkan
suara-suara indah yang ingin aku dengar, yang ingin aku nyanyikan dihatiku
Aku tidak
mengenalmu seperti wanita mengenal seorang pria
Tapi aku mengenalmu
dalam musik, pecinta musik terhadap
pemusiknya
Jauh tak sama
dengan kisah-kisah lainnya
Bahkan kita tak
saling mengenal seperti adanya
Kita hanya saling
mengetahui tempat kita dimana
Sama, tapi tak
sepadan
Kau ada dilangit
tinggi yang tak pernah aku pijaki
Sedang aku masih
berpijak di bumi yang sederhana, biasa adanya"
*****
Tak berapa lama,
hariku terus diikuti olehnya, bukan karena ia mengejar hidupku
Hanya saja ia
mulai berarti bagi kehidupanku, senyum dan tawaku
*****
"Kita akhirnya bisa
saling mengenal seperti adanya wanita dan pria biasa
Kita sama,
sama-sama mencari sesuatu yang mungkin belum kau sadari sampai kini
Menjalani hari demi
hari yang sebelumnya tak terbayang olehku
Aku merasa begitu
istimewa karena pengakuanmu
Mungkinkah kau
menempatkan aku sespesial itu, aku pun tidak tahu
Yang kualami nampak
begitu indah tidak terpungkiri
Membayangkan
hal-hal indah yang mungkin terjadi bila kita terus bersama
Masa depan yang
tidak pasti namun selalu membuatku tersenyum sendiri mengkhayalkannya
Aku seperti tiada
tujuan menuliskan semua kalimat ini
Tapi sejujurnya aku
hanya tidak tahu bagaimana melukiskan kisahku denganmu
Sebab akupun tidak
pernah tahu bagaimana kamu terhadapku, perasaanmu, posisiku dihatimu"
*****
Sejalan dengan masa
pengenalanku akannya, aku terus melakukan banyak pengingkaran
Aku ingkar jika ada
sesuatu darinya yang terus kuingat, pesan singkatnya, seruannya
Aku ingkar jika ada
rasa suka, atau bahkan lebih, yang tertancap sesaat di perasaanku
Aku ingkar jika
kukatakan aku tak sedikitpun memperhatikannya
Aku ingkar hanya
karena aku takut melakukan kesalahan yang sama
Aku ingkar hanya
karena aku takut disia-siakan lagi oleh perasaan yang namanya cinta itu
Terlalu takut
Tapi..salahkah jika
aku katakan ia memperhatikanku
Ketika ia
menanyakan kabarku
Ketika ia
membangunkan aku untuk menghadapNya
Ketika ia menyapaku
dengan nama yang spesial
Ketika ia percaya
padaku akan beberapa hal
Ketika ia mau
berbagi cerita rahasia denganku
Ketika ia
memberikan sesuatu yang membuatku spesial
Salahkah jika
dengan banyak hal itu aku merasa sebagai wanita yang istimewa baginya
Salahkah hingga
akhirnya pengingkaranku tiada guna dan sia-sia
Aku tetap saja
tidak mampu melupakan rasa ini
Aku merasakan
perasaan yang cukup dalam padanya, sampai sekarang
Dan saat ini,
bolehkah aku bicara lewat barisan kalimat ini padanya?
*****
"Kakak, aku
sangat berterima kasih atas kebaikanmu di waktu yang singkat ini. Aku
merasakan lagi penerimaan yang istimewa
dari orang yang baik sepertimu. Meski awalnya aku tidak tahu kenapa akhirnya perasaanku tertuju padamu sekarang.
Padahal aku tak pernah merasa dekat atau bahkan betul-betul mengenal
kakak.Tapi apa kakak tahu, kebaikan kakak itu membuatku salah arti karena
tiba-tiba saja sikap kakak berubah padaku, dan sekejap kemudian, berubah
kembali. Sempat aku merasa istimewa dan spesial bagi kakak, dan sesaat lagi aku merasa
disia-siakan olehmu kak.
Kakak, sosokmu yang
mungkin selama ini aku cari. Apa kakak tahu, aku tidak pernah merasa
sebahagia ini. Kakak perlakukan aku
lebih baik dari yang lain. Kakak perhatian denganku lebih awal dibanding dengan diri kakak sendiri. Kakak peduli
terhadap perasaanku. Tapi kenapa sekarang tidak kak? Kenapa tiba-tiba saja kakak menghilang? Setelah
pulang dari tempat jauh itu, kakak tidak pernah lagi menyapaku, tidak juga mengirim pesan singkat
dengan panggilan khasmu. Tidak juga kau ajak aku bicara seperti dulu. Tidak lagi kau percaya
padaku akan beberapa hal, ceritamu, keseharianmu, dan keinginan-keinginanmu kak.
Kakak, apakah aku
tidak lebih dari pengagummu yang lain? Berlebihankah aku menyimpulkan perasaanku padamu selama ini? Apakah memang
harus dengan cara ini aku kau campakkan kak?
Tidakkah kakak tahu, adik kecilmu ini telah jatuh hati pada seorang
kakak yang pandai menabu drum, pada
kakak yang rajin menghadapNya, pada kakak yang suka kotak-kotak seperti catur,
pada kakak yang tidak suka makan ikan dan tukang tidur ini? Pada kakak yang
sangat baik terhadapku. Kak, tahukah kamu, ada banyak hal yang kurencanakan
untukmu, untuk kita. Aku ingin kita akhirnya memang harus bersama. Tapi,
nyatanya tidak kak. Tidak ada lagi kau untukku . Tidak ada lagi senyum-senyum
konyolku menerima kabar darimu kak.
Tidak sedikitpun
kau sisakan itu untukku.
Aku terluka kak,
aku sedih. Aku sakit kau dengan mudahnya pergi tanpa pernah tahu apa yang
telah kau sisakan dihatiku karena
kehadiranmu kak. Kakak, aku sudah jatuh hati padamu. Tapi sekarang kita sangat berbeda kak. Kita seperti tidak
pernah saling mengenal seperti dulu, bahkan lebih buruk. Aneh rasanya harus bersikap seperti ini padamu.
Padahal..aku menyukai sikap manismu dulu kak. Apakah kau memang telah menolakku tanpa terlebih
dulu mendengar ungkapan hatiku? Ataukah kau telah menemukan yang selama ini kau cari? Tapi
kenapa aku tetap saja berharap padamu?
Aku merasa sendiri lagi tanpamu kak. Kalau
bukan aku yang ada dibenakmu saat ini, maka katakanlah dengan ungkapan nyata,
bukan dengan pergi seperti ini, cara yang menyakitkan kak.
Kak, aku memang
tidak tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya. Aku juga tidak tahu apa maksudmu
datang padaku hingga akhirnya perasaan ini ada untukmu. Tapi kak, aku ingin
kamu tahu, aku khawatir denganmu. Aku takut kalau kau pergi karena kau
terluka. Dan diam-diam, aku perhatikan kamu yang sepertinya semakin sendiri
kak. Aku hanya ingin menemanimu. Menjadi temanmu lagi, meski tidak sebaik
dulu. Kak, maafkan aku jika nyatanya aku yang salah menafsirkan perhatianmu.
Maaf jika ternyata kamu lebih tersakiti dari aku kak. Aku ingin jika memang
ini baik bagimu, kakak dapat bahagia. Terima kasih Cumiku yang lucu. Semoga
kita mendapatkan yang lebih baik dan tidak lagi merasakan sakit ini."
*****
Tentang Dia..dan
Dia..
Untuk yang terakhir
kali, aku ingin memanggilnya "Beib"
Lalu pergi mengubur
rasa ini sedalam mungkin di tempat yang sangat jauh.
Tapi bisakah?
09
Oktober 2011
22:29
ayah
Dear My Papa
Pada puisi aku datang ayah
Bukan hendak menggugat takdir kematianmu
Atau menghujat sang pemilik maut
Kali ini ingin aku katakan
Kepergianmu adalah pelajaran tanpa kamus
Perenungan panjang untuk dipahami
Bahwa hidup adalah pembuktian
Untuk wujudkan syukur dan sabar
Ketika harus menjalani skenarionya
Pada puisi aku akan kembali menemuimu ayah
Lewat goresan pena
Yang mengajariku tentang arti kematian
Bila esok telah kutemukan
Muara kasihNya tak bertepi
Akan kuceritakan kembali sepuluh malam kepergianmu
Dan sepuluh bunga yang masih berteduh
Di bawah puhon-pohon kamboja
"Oleh seseorang yang menginspirasiku"
Pada puisi aku datang ayah
Bukan hendak menggugat takdir kematianmu
Atau menghujat sang pemilik maut
Kali ini ingin aku katakan
Kepergianmu adalah pelajaran tanpa kamus
Perenungan panjang untuk dipahami
Bahwa hidup adalah pembuktian
Untuk wujudkan syukur dan sabar
Ketika harus menjalani skenarionya
Pada puisi aku akan kembali menemuimu ayah
Lewat goresan pena
Yang mengajariku tentang arti kematian
Bila esok telah kutemukan
Muara kasihNya tak bertepi
Akan kuceritakan kembali sepuluh malam kepergianmu
Dan sepuluh bunga yang masih berteduh
Di bawah puhon-pohon kamboja
"Oleh seseorang yang menginspirasiku"
Jumat, 16 Maret 2012
01 Maret 2012 (08.07)
Meresapi masa lalu lewat bayang semu
Yang tergores dalam catatan harian
Meluputkan kelam
Merah jambu di genangan awan
Senja, abu-abu, dan rasa asam
Dalam tanda tanya, tertambat
Menenggelamkan hasrat memilu
Hampir di kedalaman segitiga zaman
Boacah bertopang dagu itu yang keliru!
Langganan:
Komentar (Atom)