Jumat, 23 Maret 2012

Harus KUakui


    Sebab sering aku ingkari, setiap rasa tertanam dan tumbuh tanpa kusadari juga.
    hingga kali ini, dalam segores katalah aku harus bisa mengakuinya.
     
    *****

    "Awalnya aku mengenalmu sebagai bagian indah alunan musikku
    Kau dentangkan suara-suara indah yang ingin aku dengar, yang ingin aku nyanyikan dihatiku
    Aku tidak mengenalmu seperti wanita mengenal seorang pria
    Tapi aku mengenalmu dalam musik,  pecinta musik terhadap pemusiknya
    Jauh tak sama dengan kisah-kisah lainnya
    Bahkan kita tak saling mengenal seperti adanya
    Kita hanya saling mengetahui tempat kita dimana
    Sama, tapi tak sepadan
    Kau ada dilangit tinggi yang tak pernah aku pijaki
    Sedang aku masih berpijak di bumi yang sederhana, biasa adanya"

    *****

    Tak berapa lama, hariku terus diikuti olehnya, bukan karena ia mengejar hidupku
    Hanya saja ia mulai berarti bagi kehidupanku, senyum dan tawaku

    *****
    "Kita akhirnya bisa saling mengenal seperti adanya wanita dan pria biasa
    Kita sama, sama-sama mencari sesuatu yang mungkin belum kau sadari sampai kini
    Menjalani hari demi hari yang sebelumnya tak terbayang olehku
    Aku merasa begitu istimewa karena pengakuanmu
    Mungkinkah kau menempatkan aku sespesial itu, aku pun tidak tahu
    Yang kualami nampak begitu indah tidak terpungkiri
    Membayangkan hal-hal indah yang mungkin terjadi bila kita terus bersama
    Masa depan yang tidak pasti namun selalu membuatku tersenyum sendiri mengkhayalkannya
    Aku seperti tiada tujuan menuliskan semua kalimat ini
    Tapi sejujurnya aku hanya tidak tahu bagaimana melukiskan kisahku denganmu
    Sebab akupun tidak pernah tahu bagaimana kamu terhadapku, perasaanmu, posisiku dihatimu"

    *****

    Sejalan dengan masa pengenalanku akannya, aku terus melakukan banyak pengingkaran
    Aku ingkar jika ada sesuatu darinya yang terus kuingat, pesan singkatnya, seruannya
    Aku ingkar jika ada rasa suka, atau bahkan lebih, yang tertancap sesaat di perasaanku
    Aku ingkar jika kukatakan aku tak sedikitpun memperhatikannya
    Aku ingkar hanya karena aku takut melakukan kesalahan yang sama
    Aku ingkar hanya karena aku takut disia-siakan lagi oleh perasaan yang namanya cinta itu
    Terlalu takut

    Tapi..salahkah jika aku katakan ia memperhatikanku
    Ketika ia menanyakan kabarku
    Ketika ia membangunkan aku untuk menghadapNya
    Ketika ia menyapaku dengan nama yang spesial
    Ketika ia percaya padaku akan beberapa hal
    Ketika ia mau berbagi cerita rahasia denganku
    Ketika ia memberikan sesuatu yang membuatku spesial
    Salahkah jika dengan banyak hal itu aku merasa sebagai wanita yang istimewa baginya
    Salahkah hingga akhirnya pengingkaranku tiada guna dan sia-sia
    Aku tetap saja tidak mampu melupakan rasa ini
    Aku merasakan perasaan yang cukup dalam padanya, sampai sekarang

    Dan saat ini, bolehkah aku bicara lewat barisan kalimat ini padanya?

    *****

    "Kakak, aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu di waktu yang singkat ini. Aku merasakan lagi  penerimaan yang istimewa dari orang yang baik sepertimu. Meski awalnya aku tidak tahu kenapa  akhirnya perasaanku tertuju padamu sekarang. Padahal aku tak pernah merasa dekat atau bahkan betul-betul mengenal kakak.Tapi apa kakak tahu, kebaikan kakak itu membuatku salah arti karena tiba-tiba saja sikap kakak berubah padaku, dan sekejap kemudian, berubah kembali. Sempat aku merasa istimewa dan spesial  bagi kakak, dan sesaat lagi aku merasa disia-siakan olehmu kak.

    Kakak, sosokmu yang mungkin selama ini aku cari. Apa kakak tahu, aku tidak pernah merasa sebahagia  ini. Kakak perlakukan aku lebih baik dari yang lain. Kakak perhatian denganku lebih awal dibanding  dengan diri kakak sendiri. Kakak peduli terhadap perasaanku. Tapi kenapa sekarang tidak kak? Kenapa  tiba-tiba saja kakak menghilang? Setelah pulang dari tempat jauh itu, kakak tidak pernah lagi  menyapaku, tidak juga mengirim pesan singkat dengan panggilan khasmu. Tidak juga kau ajak aku  bicara seperti dulu. Tidak lagi kau percaya padaku akan beberapa hal, ceritamu, keseharianmu, dan  keinginan-keinginanmu kak.

    Kakak, apakah aku tidak lebih dari pengagummu yang lain? Berlebihankah aku menyimpulkan  perasaanku padamu selama ini? Apakah memang harus dengan cara ini aku kau campakkan kak?  Tidakkah kakak tahu, adik kecilmu ini telah jatuh hati pada seorang kakak yang pandai menabu drum,  pada kakak yang rajin menghadapNya, pada kakak yang suka kotak-kotak seperti catur, pada kakak yang tidak suka makan ikan dan tukang tidur ini? Pada kakak yang sangat baik terhadapku. Kak, tahukah kamu, ada banyak hal yang kurencanakan untukmu, untuk kita. Aku ingin kita akhirnya memang harus bersama. Tapi, nyatanya tidak kak. Tidak ada lagi kau untukku . Tidak ada lagi senyum-senyum konyolku menerima kabar darimu kak.
    Tidak sedikitpun kau sisakan itu untukku.

    Aku terluka kak, aku sedih. Aku sakit kau dengan mudahnya pergi tanpa pernah tahu apa yang telah  kau sisakan dihatiku karena kehadiranmu kak. Kakak, aku sudah jatuh hati padamu. Tapi sekarang kita  sangat berbeda kak. Kita seperti tidak pernah saling mengenal seperti dulu, bahkan lebih buruk. Aneh  rasanya harus bersikap seperti ini padamu. Padahal..aku menyukai sikap manismu dulu kak. Apakah  kau memang telah menolakku tanpa terlebih dulu mendengar ungkapan hatiku? Ataukah kau telah  menemukan yang selama ini kau cari? Tapi kenapa aku tetap saja berharap padamu?
    Aku merasa sendiri lagi tanpamu kak. Kalau bukan aku yang ada dibenakmu saat ini, maka katakanlah dengan ungkapan nyata, bukan dengan pergi seperti ini, cara yang menyakitkan kak.

    Kak, aku memang tidak tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya. Aku juga tidak tahu apa maksudmu datang padaku hingga akhirnya perasaan ini ada untukmu. Tapi kak, aku ingin kamu tahu, aku khawatir denganmu. Aku takut kalau kau pergi karena kau terluka. Dan diam-diam, aku perhatikan kamu yang sepertinya semakin sendiri kak. Aku hanya ingin menemanimu. Menjadi temanmu lagi, meski tidak sebaik dulu. Kak, maafkan aku jika nyatanya aku yang salah menafsirkan perhatianmu. Maaf jika ternyata kamu lebih tersakiti dari aku kak. Aku ingin jika memang ini baik bagimu, kakak dapat bahagia. Terima kasih Cumiku yang lucu. Semoga kita mendapatkan yang lebih baik dan tidak lagi merasakan sakit ini."

    *****

    Tentang Dia..dan Dia..
    Untuk yang terakhir kali, aku ingin memanggilnya "Beib"
    Lalu pergi mengubur rasa ini sedalam mungkin di tempat yang sangat jauh.
    Tapi bisakah?


09 Oktober 2011
22:29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar