Selasa, 25 Desember 2012

25 des 2012

Kamu mengulangnya lagi.

pertama aku diam, dan tetap berpikir semuanya adalah guyon.
setelahnya akupun masih begitu. diam.

berkali-kali, bertahun-tahun, terus terulang.
tidak perlu lagi kujelaskan. kau harusnya sudah tahu.

baik, kujelaskan.

dulu, dengar, itu dulu.
aku menyukaimu tanpa izin. hanya terobsesi pada sesuatu yang menarik. mungkin suaramu, atau apapun.
waktu demi waktu, ternyata tanpa kusangka aku benar-benar menginginkanmu. hingga akhirnya aku berlomba dengan hatiku. kami bertaruh bahwa ini tak akan lama.

singkat cerita, aku kalah.
aku mengaku kalah.
aku tidak menang dari waktu, dari kamu.

berkali aku merasa tersakiti, kesetiaan nyatanya tetap tegar.

dan hari ini, kau datang dengan seribu janji yang pernah kau bawa pergi.
bodohnya kuterima kembali dengan sejuta mimpi.

tetap mencintai.

sudahlah, satu kata ini terlalu rumit dijabarkan.
yang ingin kuketahui adalah bisakah kamu mengerti.     

kamu

pernahkah ada satu bayangan yang terus kau ikuti?
padahal kau tahu bayangan itu tak pernah bisa kau sentuh.

pernahkah kau coba menatap matahari?
padahal kau tahu ia menyakitkan untuk ditatap.

Jawabku;

pernah.

aku pernah mengikuti sebuah bayangan bahkan menyentuhnya.

ialah bayanganmu saat kupeluk.


pernah.

ialah kamu matahari terang yang kutatap saat senja yang lebih indah.

Cemburu

Di tengah malam yang sendu
tangisku akhirnya pecah
diam-diam ada butiran airmata
yang menetes sedikit waktu

Lewat haru meragu yang juga rindu
aku tak seharusnya malu
atas harap yang dulu tak kumau
atas senyap yang bukan kuburu

Sekarang, aku mencoba mengerti lagi
aku belum dapat apa-apa
aku bahkan belum beranjak kemanapun
selama ini aku hanya ingin tahu
meski ternyata tetap saja tak pernah tahu

Jumat, 04 Mei 2012

Tentang Sebuah Moment

Tentang sebuah moment

masih jelas tergambar senyummu yang bijak
penuh ketabahan disertai petuah-petuah sederhana
diam tanpa suara
adalah kebisuan yang indah di hari kepergianmu

saat itu kita tak saling tahu
apa yang hendak disiratkan dan ditakdirkanNya
kita berdua hanya bercengkrama
menikmati waktu yang ada

give me time to reason

tentang sebuah moment singkat
jauh melangkah menjelajah perpisahan

andaii..bisa
moment itu akan kubekukan dalam sebuah bingkai
membiarkan satu waktu digenapkan bersama
jika memang waktu adalah harapan kalbu

dan biar kujelaskan,
sepenuhnya kenangan itu belenggu
belenggu kehampaan
teman bagi kesetiaan
untuk setiap individu-yang punya harga baginya

if only i could turn back time
i would stay for the night

Kamis, 03 Mei 2012

TIADA


Kita tiada bukan karena tidak disukai, namun karena setiap langkah punya tapaknya sendiri yang terlupakan.
Seperti yang aku ingat, kita pernah sendiri saat bisa bersama.
Seperti ketika kita terpejam dalam hiruk pikuk pandangan mata,
saat kita ingin punya ruang pandang sendiri.

Mestinya, Ketiadaan cukup punya andil dalam memajemukan liku hidup.
Meski hidup sangatlah mengasikkan diantara keberagaman, kerap kali hidup itu berarti mampu.
Mampu bertahan dari segala hal, pahit manisnya derap langkah yang bertumbuh.
Tumbuh meski tanpa didampingi lainnya.

Maka kita adalah TIADA.
Sebab kita bukanlah tentang aku dan kamu, atau dia.
Tak cukup dimengerti, terlebih dipahami atau memahami.

Minggu, 08 April 2012

Kembali


Walau bagaimanapun aku hadir bagimu
Untuk mengembalikan sejumput memori
 Dari setiap gores pena masa lalu
Atas segenap harap semu menanti

Rabu, 28 Maret 2012

L E T I H

langkahku sekarang terasa gontai, letih
segala penopang telah rapuh,
beberapa sudah hancur
atau tak lagi lekat ?

lihat saja  derap langkahku yang terseok
lihat saja ucap kataku yang sering sungkan
lihatlah sedikit mata ini menatap
kadang kosong, kadang penat

entah bagaimana lelah ini tergambar
tulisan ini pun bukan lagi aku
terangkanlah apa yang kau tahu
buat aku mengerti dan kembali

Minggu, 25 Maret 2012

kesempatan

aku pernah melangkah begitu hening

dalam raut runyam masa lalu dan harapan

walau terseret, aku resapi langkah hidup

yang ketika itu aku telah tersentak dan sadar

seperti jatuh berkali-kali baru ku tahu

 

ada banyak tanya yang tak pernah dipertanyakan

ada banyak hal yang dikorbankan tak pernah jadi pengorbanan

begitu pula kasih sayang, cinta, ada banyak yang tak pernah digoreskan

aku..hanya ingin menjalankan sedikit kesempatan yang kupunya

untuk mengistirahatkan langkahku yang gontai

untuk menyuarakan ucapku yang keliru

 setidaknya hingga aku tak lagi mampu

 

Jumat, 23 Maret 2012

Dua Satu


Ayah.. Tersenyumlah disana. Buatlah dunia kita begitu indah hingga tiada yang tau kalau kita terpisah.

Ayah.. Engkau memang orang kedua yang aku kenali setelah ibu.
Tapi engkau orang pertama yang pergi dari kehidupan ini, meninggalkan nafas kasih yang tak pernah lepas dari nyawaku.

Saat semua orang gembira menyambut hari perjuangan seorang wanita hebat bernama "Kartini",
saat itu pula Sang Empunya Hidup menarik nyawamu kembali padaNya.
Meski kau pergi ayah.. Taukah? Bahwa hari itu Allah telah menitahkan kebesaran pada ibuku juga. Sebagai seorang wanita yang hebat, melebihi seorang "Kartini" sekalipun.

Karena Ibu, telah melahirkan dua orang calon pejuang hidup yang kuat.
Aku dan Adikku.

23 Maret 2012
13:56

Harus KUakui


    Sebab sering aku ingkari, setiap rasa tertanam dan tumbuh tanpa kusadari juga.
    hingga kali ini, dalam segores katalah aku harus bisa mengakuinya.
     
    *****

    "Awalnya aku mengenalmu sebagai bagian indah alunan musikku
    Kau dentangkan suara-suara indah yang ingin aku dengar, yang ingin aku nyanyikan dihatiku
    Aku tidak mengenalmu seperti wanita mengenal seorang pria
    Tapi aku mengenalmu dalam musik,  pecinta musik terhadap pemusiknya
    Jauh tak sama dengan kisah-kisah lainnya
    Bahkan kita tak saling mengenal seperti adanya
    Kita hanya saling mengetahui tempat kita dimana
    Sama, tapi tak sepadan
    Kau ada dilangit tinggi yang tak pernah aku pijaki
    Sedang aku masih berpijak di bumi yang sederhana, biasa adanya"

    *****

    Tak berapa lama, hariku terus diikuti olehnya, bukan karena ia mengejar hidupku
    Hanya saja ia mulai berarti bagi kehidupanku, senyum dan tawaku

    *****
    "Kita akhirnya bisa saling mengenal seperti adanya wanita dan pria biasa
    Kita sama, sama-sama mencari sesuatu yang mungkin belum kau sadari sampai kini
    Menjalani hari demi hari yang sebelumnya tak terbayang olehku
    Aku merasa begitu istimewa karena pengakuanmu
    Mungkinkah kau menempatkan aku sespesial itu, aku pun tidak tahu
    Yang kualami nampak begitu indah tidak terpungkiri
    Membayangkan hal-hal indah yang mungkin terjadi bila kita terus bersama
    Masa depan yang tidak pasti namun selalu membuatku tersenyum sendiri mengkhayalkannya
    Aku seperti tiada tujuan menuliskan semua kalimat ini
    Tapi sejujurnya aku hanya tidak tahu bagaimana melukiskan kisahku denganmu
    Sebab akupun tidak pernah tahu bagaimana kamu terhadapku, perasaanmu, posisiku dihatimu"

    *****

    Sejalan dengan masa pengenalanku akannya, aku terus melakukan banyak pengingkaran
    Aku ingkar jika ada sesuatu darinya yang terus kuingat, pesan singkatnya, seruannya
    Aku ingkar jika ada rasa suka, atau bahkan lebih, yang tertancap sesaat di perasaanku
    Aku ingkar jika kukatakan aku tak sedikitpun memperhatikannya
    Aku ingkar hanya karena aku takut melakukan kesalahan yang sama
    Aku ingkar hanya karena aku takut disia-siakan lagi oleh perasaan yang namanya cinta itu
    Terlalu takut

    Tapi..salahkah jika aku katakan ia memperhatikanku
    Ketika ia menanyakan kabarku
    Ketika ia membangunkan aku untuk menghadapNya
    Ketika ia menyapaku dengan nama yang spesial
    Ketika ia percaya padaku akan beberapa hal
    Ketika ia mau berbagi cerita rahasia denganku
    Ketika ia memberikan sesuatu yang membuatku spesial
    Salahkah jika dengan banyak hal itu aku merasa sebagai wanita yang istimewa baginya
    Salahkah hingga akhirnya pengingkaranku tiada guna dan sia-sia
    Aku tetap saja tidak mampu melupakan rasa ini
    Aku merasakan perasaan yang cukup dalam padanya, sampai sekarang

    Dan saat ini, bolehkah aku bicara lewat barisan kalimat ini padanya?

    *****

    "Kakak, aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu di waktu yang singkat ini. Aku merasakan lagi  penerimaan yang istimewa dari orang yang baik sepertimu. Meski awalnya aku tidak tahu kenapa  akhirnya perasaanku tertuju padamu sekarang. Padahal aku tak pernah merasa dekat atau bahkan betul-betul mengenal kakak.Tapi apa kakak tahu, kebaikan kakak itu membuatku salah arti karena tiba-tiba saja sikap kakak berubah padaku, dan sekejap kemudian, berubah kembali. Sempat aku merasa istimewa dan spesial  bagi kakak, dan sesaat lagi aku merasa disia-siakan olehmu kak.

    Kakak, sosokmu yang mungkin selama ini aku cari. Apa kakak tahu, aku tidak pernah merasa sebahagia  ini. Kakak perlakukan aku lebih baik dari yang lain. Kakak perhatian denganku lebih awal dibanding  dengan diri kakak sendiri. Kakak peduli terhadap perasaanku. Tapi kenapa sekarang tidak kak? Kenapa  tiba-tiba saja kakak menghilang? Setelah pulang dari tempat jauh itu, kakak tidak pernah lagi  menyapaku, tidak juga mengirim pesan singkat dengan panggilan khasmu. Tidak juga kau ajak aku  bicara seperti dulu. Tidak lagi kau percaya padaku akan beberapa hal, ceritamu, keseharianmu, dan  keinginan-keinginanmu kak.

    Kakak, apakah aku tidak lebih dari pengagummu yang lain? Berlebihankah aku menyimpulkan  perasaanku padamu selama ini? Apakah memang harus dengan cara ini aku kau campakkan kak?  Tidakkah kakak tahu, adik kecilmu ini telah jatuh hati pada seorang kakak yang pandai menabu drum,  pada kakak yang rajin menghadapNya, pada kakak yang suka kotak-kotak seperti catur, pada kakak yang tidak suka makan ikan dan tukang tidur ini? Pada kakak yang sangat baik terhadapku. Kak, tahukah kamu, ada banyak hal yang kurencanakan untukmu, untuk kita. Aku ingin kita akhirnya memang harus bersama. Tapi, nyatanya tidak kak. Tidak ada lagi kau untukku . Tidak ada lagi senyum-senyum konyolku menerima kabar darimu kak.
    Tidak sedikitpun kau sisakan itu untukku.

    Aku terluka kak, aku sedih. Aku sakit kau dengan mudahnya pergi tanpa pernah tahu apa yang telah  kau sisakan dihatiku karena kehadiranmu kak. Kakak, aku sudah jatuh hati padamu. Tapi sekarang kita  sangat berbeda kak. Kita seperti tidak pernah saling mengenal seperti dulu, bahkan lebih buruk. Aneh  rasanya harus bersikap seperti ini padamu. Padahal..aku menyukai sikap manismu dulu kak. Apakah  kau memang telah menolakku tanpa terlebih dulu mendengar ungkapan hatiku? Ataukah kau telah  menemukan yang selama ini kau cari? Tapi kenapa aku tetap saja berharap padamu?
    Aku merasa sendiri lagi tanpamu kak. Kalau bukan aku yang ada dibenakmu saat ini, maka katakanlah dengan ungkapan nyata, bukan dengan pergi seperti ini, cara yang menyakitkan kak.

    Kak, aku memang tidak tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya. Aku juga tidak tahu apa maksudmu datang padaku hingga akhirnya perasaan ini ada untukmu. Tapi kak, aku ingin kamu tahu, aku khawatir denganmu. Aku takut kalau kau pergi karena kau terluka. Dan diam-diam, aku perhatikan kamu yang sepertinya semakin sendiri kak. Aku hanya ingin menemanimu. Menjadi temanmu lagi, meski tidak sebaik dulu. Kak, maafkan aku jika nyatanya aku yang salah menafsirkan perhatianmu. Maaf jika ternyata kamu lebih tersakiti dari aku kak. Aku ingin jika memang ini baik bagimu, kakak dapat bahagia. Terima kasih Cumiku yang lucu. Semoga kita mendapatkan yang lebih baik dan tidak lagi merasakan sakit ini."

    *****

    Tentang Dia..dan Dia..
    Untuk yang terakhir kali, aku ingin memanggilnya "Beib"
    Lalu pergi mengubur rasa ini sedalam mungkin di tempat yang sangat jauh.
    Tapi bisakah?


09 Oktober 2011
22:29

ayah

Dear My Papa

Pada puisi aku datang ayah
Bukan hendak menggugat takdir kematianmu
Atau menghujat sang pemilik maut

Kali ini ingin aku katakan
Kepergianmu adalah pelajaran tanpa kamus
Perenungan panjang untuk dipahami
Bahwa hidup adalah pembuktian
Untuk wujudkan syukur dan sabar
Ketika harus menjalani skenarionya

Pada puisi aku akan kembali menemuimu ayah
Lewat goresan pena
Yang mengajariku tentang arti kematian
Bila esok telah kutemukan
Muara kasihNya tak bertepi
Akan kuceritakan kembali sepuluh malam kepergianmu
Dan sepuluh bunga yang masih berteduh
Di bawah puhon-pohon kamboja

"Oleh seseorang yang menginspirasiku"

Jumat, 16 Maret 2012

01 Maret 2012 (08.07)

Meresapi masa lalu lewat bayang semu
Yang tergores dalam catatan harian
Meluputkan kelam
Merah jambu di genangan awan

Senja, abu-abu, dan rasa asam
Dalam tanda tanya, tertambat
Menenggelamkan hasrat memilu
Hampir di kedalaman segitiga zaman

Boacah bertopang dagu itu yang keliru!

Selasa, 07 Februari 2012

29 Desember 2011 (15:40)

Aku berjalan sedikit lebih cepat
Sesekali melambaikan senyum
Dan berlari kecil
Melambaikan genit khayal, angan
Tentang sebuah moment

Kupahami betul isyarat itu

Aku tersenyum dan berbalik pulang
Menundukkan kepala
Sesekali menegok ke belakang
Tesenyum lagi dan berlari
Berlari.. Berlari hingga meneteslah embun itu
Menguap bersama angin
Mengiringi beberapa pedih

Sedikit ku tahu itu aku
Saat hatinya tersentuh
Saat pula hatinya terhimpit